Kamis, 02 Juli 2026

Kinerja Nonmigas Kokoh, Neraca Perdagangan Indonesia Januari–Mei 2026 Catatkan Surplus USD 4,03 Miliar

Jakarta, 2 Juli 2026 – Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia tetap menunjukkan ketahanan pada lima bulan pertama 2026. Meskipun neraca perdagangan Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar USD 1,61 miliar akibat peningkatan defisit sektor migas, secara kumulatif periode Januari–Mei 2026 Indonesia masih membukukan surplus sebesar USD 4,03 miliar. Surplus tersebut ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar USD 16,31 miliar yang mampu mengimbangi defisit migas sebesar USD 12,28 miliar.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan, kinerja perdagangan nonmigas masih menjadi fondasi utama perdagangan luar negeri Indonesia. "Meskipun neraca perdagangan Mei 2026 defisit, namun secara kumulatif, kinerja perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus. Ini membuktikan kinerja perdagangan nonmigas Indonesia masih tetap kokoh di tengah tantangan global," ujar Mendag Busan.

Pada Mei 2026, defisit perdagangan terutama dipengaruhi meningkatnya defisit sektor migas yang mencapai USD 3,76 miliar. Defisit tersebut berasal dari hasil minyak sebesar USD 3,40 miliar dan minyak mentah sebesar USD 0,70 miliar, sementara perdagangan gas alam masih mencatatkan surplus USD 0,35 miliar.

Di tengah tekanan pada sektor migas, perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus USD 2,15 miliar pada Mei 2026. Tiga komoditas penyumbang surplus terbesar adalah bahan bakar mineral (HS 27) senilai USD 2,54 miliar, lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebesar USD 2,21 miliar, serta besi dan baja (HS 72) sebesar USD 1,38 miliar.

Secara kumulatif Januari–Mei 2026, surplus nonmigas terutama disumbang oleh komoditas lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) senilai USD 13,92 miliar, bahan bakar mineral (HS 27) sebesar USD 10,88 miliar, dan besi serta baja (HS 72) sebesar USD 7,09 miliar. Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan nilai USD 8,47 miliar, diikuti India sebesar USD 5,34 miliar, dan Filipina sebesar USD 3,42 miliar.

Impor Barang Modal Tumbuh Seiring Peningkatan Aktivitas Produksi

Pada Mei 2026, nilai impor Indonesia tercatat sebesar USD 24,81 miliar, turun 1,59 persen dibandingkan April 2026 (MtM), namun meningkat 22,16 persen dibandingkan Mei 2025 (YoY). Penurunan bulanan terjadi seiring melemahnya impor migas maupun nonmigas.

Mendag Busan menjelaskan, pelemahan impor pada Mei 2026 terutama berasal dari penurunan impor barang konsumsi sebesar 8,42 persen dan bahan baku/penolong sebesar 5,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya (MtM). Sebaliknya, impor barang modal meningkat signifikan sebesar 21,12 persen (MtM).

"Kenaikan impor barang modal mencerminkan menguatnya aktivitas investasi dan kapasitas produksi nasional. Hal ini diharapkan dapat mendukung peningkatan daya saing industri serta ekspor Indonesia ke depan," ujar Mendag Busan.

Selama Januari–Mei 2026, nilai impor Indonesia mencapai USD 111,33 miliar atau tumbuh 15,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC). Kenaikan tersebut ditopang impor migas sebesar 27,89 persen dan nonmigas sebesar 13,16 persen (CtC).

Berdasarkan golongan penggunaan barang (BEC), seluruh komponen impor mengalami pertumbuhan, yakni barang modal sebesar 17,53 persen, barang konsumsi 17,05 persen, dan bahan baku/penolong 14,41 persen (CtC). 

Sementara berdasarkan komoditas, peningkatan impor nonmigas tertinggi terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) yang melonjak 808,56 persen, diikuti garam, belerang, batu dan semen (HS 25) sebesar 73,94 persen, bijih logam, terak dan abu (HS 26) sebesar 58,63 persen, bahan bakar mineral (HS 27) sebesar 40,48 persen, serta berbagai produk kimia (HS 38) sebesar 34,94 persen (CtC).

Dari sisi negara asal, impor nonmigas Indonesia masih didominasi Tiongkok, Jepang, dan Australia dengan kontribusi gabungan mencapai 52,68 persen. Sementara itu, pertumbuhan impor nonmigas tertinggi berasal dari Meksiko yang meningkat 247,36 persen, Perancis 193,63 persen, dan Spanyol 88,33 persen (CtC).