Jumat, 22 September 2017

Sambut Hari Jadi Pertambangan dan Energi Ke-72, Kementerian ESDM Gelar Pekan Pertambangan dan Energi

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyiapkan sejumlah agenda untuk menyambut peringatan Hari Jadi Pertambangan dan Energi (PE) ke-72, yang akan jatuh pada tanggal 28 September 2017. Sesuai rencana, perhelatan yang kemudian disebut sebagai "Pekan Pertambangan dan Energi 2017" ini sudah dimulai dari pekan kedua bulan September hingga akhir bulan nanti.

"Acara Pekan Pertambangan dan Energi dalam rangka memperingati Hari Jadi PE ke-72 ini, tidak hanya melibatkan keluarga besar Kementerian ESDM, namun juga para stakeholders dan para penggiat di sektor ESDM, termasuk jurnalis dan mahasiswa," ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana saat ditemui di acara IndoEBTKE Conference and Exhibition 2017, beberapa waktu lalu.

Dengan menggandeng Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Kementerian ESDM telah menyelenggarakan IndoEBTKE Conference and Exhibition dan Bali Clean Energy Forum 2017 di Balai Kartini Jakarta, 13-15 September.

Selanjutnya, pada tanggal 18 September, Ibu Menteri Retnowati Jonan dan Ibu Wakil Menteri Paulin Tahar bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian ESDM melakukan penanaman pohon di Kampus Lapangan, Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) Cisarua.

Hari ini, Jumat (22/9) Menteri ESDM Ignasius Jonan bersama para Mantan Menteri ESDM dan jajaran pejabat di lingkungan Kementerian ESDM diagendakan melakukan ziarah ke makam Arie Frederik Lasut, Pahlawan Nasional yang merupakan Bapak Pertambangan Indonesia, di Yogyakarta. Sehari setelahnya, Kementerian ESDM menggelar tatap muka dengan netizen sektor ESDM di Bandung dalam tajuk "Temu Netizen ke-7: Tambang untuk Kehidupan Manusia" yang dilanjutkan acara "Night at Museum" di Museum Geologi Bandung menyasar generasi muda untuk turut mendukung pengembangan sektor ESDM.

Pada tanggal 26-27 September, Kementerian ESDM mengadakan Pertambangan dan Energi EXPO 2017 yang menghadirkan pembicara para ahli pertambangan dan energi di Indonesia, termasuk para Mantan Menteri ESDM, dengan mengambil tema "Energi Berkeadilan untuk Kesejahteraan Rakyat dan Investasi Berkelanjutan".

Malam harinya di tanggal 27 September, akan digelar Malam Penganugerahan Penghargaan Subroto, penganugerahan tertinggi di sektor ESDM bagi Pengelola Bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lindungan Lingkungan (K3LL) Panas Bumi, Penghargaan Efisiensi Energi Nasional, Penghargaan Wartawan Energi, Penghargaan Keselamatan Migas dan Penghargaan Inovasi Energi.

"Malam Penganugerahan Penghargaan Subroto ini merupakan apresiasi Pemerintah kepada masyarakat baik individu, golongan maupun instansi, termasuk jurnalis atas kepedulian dalam memajukan sektor ESDM," jelas Dadan.

Sementara itu, puncak acara peringatan Hari Jadi Pertambangan dan Energi ditandai melalui penyelenggaraan upacara peringatan Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-72 pada Kamis, 28 September di Kantor Kementerian ESDM yang akan dilanjutkan dengan acara donor darah, pembagian santunan dan kegiatan kebersamaan.

"Pekan PE 2017 akan ditutup dengan kegiatan pameran dan seminar Hari Listrik Nasional 2017 yang berlangsung sejak tanggal 28 dan berakhir pada 30 September nanti," pungkas Dadan.

Sejarah Hari Jadi Pertambangan dan Energi
Setelah tersiarnya kabar kemerdekaan 17 Agustus 1945 lewat radio, pada tanggal 25 September 1945 dikeluarkan pengumuman dari Pemerintah Pusat yang menyatakan bahwa semua pegawai negeri adalah pegawai Republik Indonesia dan wajib menjalankan perintah dari Pemerintah Republik Indonesia.

Mengacu perintah tersebut, pada tanggal 27 September 1945 malam, Komite Nasional Indonesia Kota Bandung yang baru terbentuk, mengumumkan lewat radio agar keesokan harinya semua kantor dan perusahaan yang ada di Bandung diambil alih dari kekuasaan Jepang.

Hari Jumat tanggal 28 September 1945, pukul 11.00 WIB sekelompok pegawai muda di kantor Chisitsu Chosasho (Jawatan Geologi) pun mengambil tindakan berani. Dipelopori oleh Raden Ali Tirtosoewirjo, Arie Federik Lasut (A.F. Lasut), R. Soenoe Soemosoesastro dan Sjamsoe M. Bahroem, mereka mengambil alih secara paksa kantor Chisitsu Chosasho dari pihak Jepang, dan sejak saat itu nama kantor diubah menjadi Pusat Jawatan Tambang dan Geologi dan A.F. Lasut ditunjuk sebagai Kepala Jawatan Tambang dan Geologi Indonesia Pertama. Untuk menghindari agresi Belanda, Kantor Jawatan terpaksa berpindah ke Tasikmalaya, Magelang dan Yogyakarta.

Saat pasukan Belanda kembali ke Indonesia, A.F. Lasut adalah pemuda yang tegas dan menolak kerjasama dengan Belanda. Pada pagi hari tanggal 7 Mei 1949 di Yogyakarta, A.F. diculik oleh segerombolan pasukan Belanda dari kediamannya di Pugeran, dibawa dengan jip ke arah Kaliurang, dan kemudian ditembak mati di daerah Sekip, yang sekarang masuk lingkungan Kampus Universitas Gadjah Mada. 

Atas jasa-jasanya, A.F. Lasut kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 012/TK/Tahun 1969 tanggal 20 Mei 1969. Dengan ditetapkannya A.F. Lasut sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, maka memperkuat landasan bahwa pengambilalihan kantor Chisitsu Chosasho (Jawatan Geologi) pada tanggal 28 September 1945 merupakan peristiwa heroik yang penting bagi sektor pertambangan dan energi.

Pada tanggal yang sama dengan kejadian pengambilalihan Chisitsu Chosasho di Bandung, pada hari yang sama 28 September 1945, juga terjadi pengambilalihan kantor Jawa Denki Koza (Perusahaan Listrik Jawa) secara paksa oleh para pemuda.

Berangkat dari dua peristiwa besar sejarah bangsa di bidang pertambangan dan energi ini, pada tanggal 27 September 2008 Pemerintah menerbitkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2008 tentang Hari Jadi Pertambangan dan Energi, menetapkan tanggal 28 September Sebagai Hari Jadi Pertambangan dan Energi.

Kamis, 21 September 2017

TelkomGroup Dorong UMKM Indonesia Go Global Melalui Pelatihan e-commerce dan Pemasaran Online di Blanja.com

Jakarta, 21 September 2017 – Dalam rangka mendorong Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia menembus pasar global di era digital, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) terus optimalkan keberadaan Rumah Kreatif BUMN (RKB) untuk meningkatkan wawasan dan daya saing para pelaku UKM di Indonesia, khususnya melalui pelatihan operasional pemasaran online dan listing penjualan produk di situs e-commerce Blanja.com.

Direktur Wholesale & Internasional Service Telkom Abdus Somad Arief menjelaskan, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam bidang telekomunikasi digital, TelkomGroup berkomitmen mendukung penuh peningkatan kualitas UMKM Indonesia melalui pemanfaatan teknologi digital. “TelkomGroup mendukung penuh digitalisasi UMKM di Indonesia dengan infrastruktur ICT yang menjangkau seluruh nusantara dengan akses global, sehingga memungkinkan para pelaku UMKM di seluruh Indonesia, khususnya UMKM binaan RKB BUMN, untuk mulai menjalankan bisnisnya dengan memanfaatkan teknologi digital. Selain itu, dari sisi aplikasi, TelkomGroup juga  terus mendorong implementasi pengelolaan UMKM berbasis aplikasi digital serta membantu listing produk-produk UMKM di situs e-commerce Blanja.com,” jelas pria yang akrab disapa ASA saat ditemui dalam konferensi pers di pameran Indonesia Business Development (IBD) Expo 2017 di Jakarta Convention Center, Kamis (21/9).

Dalam setiap pengelolaan RKB BUMN, UMKM akan melalui 3 tahap mulai dari Go Modern, Go Digital, dan Go Online. Go Modern dimulai dari bimbingan registrasi di situs www.rkb.id, standarisasi produk, serta pelatihan pengelolaan branding. Setelah itu, pelaku UMKM masuk ke tahap Go Digital untuk mendapatkan pelatihan implementasi apps digital, social media dan otomatisasi produk. Tahapan terakhir adalah Go Online dimana para pelaku UMKM mendapatkan pelatihan mengenai pembuatan website, listing di situs e-commerce Blanja.com, serta pelatihan marketing dan motivasi tentang bagaimana tumbuh dan menginspirasi UMKM lainnya. Hingga saat ini, terdapat total 441.514 UMKM RKB BUMN, dimana 434.081 UMKM diantaranya telah Go Modern, 7.433 UMKM diantaranya telah Go Digital, dan 6.032 UMKM telah Go Online.

ASA melanjutkan, para pelaku UMKM di berbagai daerah memberikan respon positif berdirinya RKB. “Sejak mulai RKB mulai dibangun oleh BUMN di tahun 2016 lalu, hingga saat ini terdapat 441.514 UMKM yang telah terdaftar di seluruh RKB BUMN. Hal ini menunjukkan antusiasme para pelaku UMKM, dengan produk unggulan masing-masing, mereka ingin meningkatkan kompetensi dan kualitas UMKM agar mampu bersaing secara global,” ungkap ASA.

Sampai dengan September 2017, Telkom telah membangun 37 RKB di seluruh Indonesia yang telah membina 2.857 UMKM. Sebanyak 3.549 produk UMKM binaan RKB Telkom telah terdaftar di Blanja.com. Selain itu, UMKM binaan RKB Telkom juga telah melakukan lebih dari 3.500 transaksi di Blanja.com dengan total transaksi senilai Rp 473,3 Juta.

Pendirian dan pengelolaan RKB oleh BUMN merupakan salah satu wujud sinergi BUMN untuk menggali potensi UMKM Indonesia sebagai salah satu penggerak perekonomian nasional. RKB juga merupakan bagian dari program BUMN Hadir untuk Negeri yang diinisiasi oleh Kementrian BUMN sebagai upaya pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Melalui RKB, diharapkan para pelaku UMKM di Indonesia dapat semakin berkualitas serta memiliki akses di kancah global.

Rabu, 20 September 2017

Penuhi Kebutuhan Hulu Hingga Hilir Bisnis Anda, Semen Indonesia Hadirkan Layanan "SI Total Solution"

Jakarta, 20 September 2017 - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, berpartisipasi pada acara Indonesia Business and Development (IBD) Expo 2017 yang digelar di Jakarta Convention Center, pada Rabu (20/9) – Sabtu (23/9). Dalam IBD Expo tahun ini, Semen Indonesia memperkenalkan SEMEN INDONESIA TOTAL SOLUTION (SITOS). Layanan yang menghadirkan produk hulu hingga hilir yang meliputi produk semen, non semen, hingga jasa yang dihadirkan oleh Semen Indonesia melalui jaringan operating company, anak perusahaan dan afiliasinya.

Direktur Marketing dan Supply Chain, Ahyanizzaman mengatakan bahwa “Dalam menjalankan komitmen untuk mengembangkan industri bangunan maupun industri lain yang dimiliki oleh Semen Indonesia maka dengan keunggulan daya saing dan sinergi yang berorientasi kepada kepuasan konsumen, Perseroan menghadirkan SEMEN INDONESIA TOTAL SOLUTION sebagai solusi lengkap yang siap memenuhi kebutuhan bisnis dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

Ahyanizzaman menjelaskan bahwa “Layanan SEMEN INDONESIA TOTAL SOLUTION memiliki tiga konsep. Pertama “Selling”  atau menjual poduk semen, non semen dan jasa. Kedua “Consultation”  yakni memberikan layanan menyeluruh mulai visitasi, tukar pikiran, layanan teknis, hingga penyiapan kebutuhan fisik, serta yang ketiga yakni “Partnership” bagi pelanggan”, imbuhnya.

“Selain produk semen, SEMEN INDONESIA TOTAL SOLUTION juga menyediakan berbagai macam produk bahan bangunan dan layanan jasa berkualitas, antara lain beton siap pakai dan pracetak (PT Semen Indonesia Beton), papan semen datar ramah lingkungan “Gress Board” (Koperasi Warga Semen Gresik), jasa konstruksi (PT Swadaya Graha), jasa teknologi informasi (PT Sinergi Informatika Semen Indonesia), jasa angkutan laut dan darat (PT Semen Indonesia Logistik), International Trading (PT Semen Indonesia Internasional), dll.  Layanan SITOS didukung oleh 32 perusahaan dengan sumber daya dan sarana yang lengkap dan modern”, jelas Ahyanizzaman.

Pada 30 Agustus 2017, Semen Indonesia juga telah meluncurkan produk varian semen baru dengan merk “MAXSTRENGTH Cement”. MAXSTRENGTH Cement merupakan Semen Portland Slag Pertama di Indonesia dengan spesifikasi yang diformulasikan khusus bagi industy ready mix dan precast untuk kebutuhan pembangunan mega structure seperti konstruksi jembatan, flyover, terowongan bawah tanah, skyscrapper dan tower sesuai dengan kebutuhan bangunan masyarakat modern saat ini.

MAXSTRENGTH Cement memiliki beberapa keunggulan yaitu semen dengan kuat tekan akhir dan kuat lentur yang tinggi, memiliki panas hidrasi yang lebih rendah, meningkatkan keawetan beton terhadap kondisi lingkungan yang agresif, seperti serangan karbonasi, chloride dan sulfat tinggi, serta ramah lingkungan.


Selasa, 19 September 2017

Sinar Mas Agribusiness and Food Tembus Dow Jones Sustainability Indices untuk Capaian Perusahaan Dalam Praktik Bisnis Berkelanjutan

Jakarta,– Sinar Mas Agribusiness and Food yang beroperasi di bawah Golden Agri-Resources (GAR) berhasil menembus daftar Dow Jones Sustainability Indices (DJSI) 2017 untuk Asia Pasifik berkat praktik bisnis berkelanjutan perusahaan yang terdepan di industri kelapa sawit. Sejak DJSI diluncurkan pada tahun 1999, ini merupakan pertama kalinya GAR berhasil menembus daftar DJSI dan merupakan satu-satunya perusahaan kelapa sawit dari Asia Tenggara yang berhasil masuk dalam sektor Makanan, Minuman dan Tembakau di Asia Pasifik. GAR juga salah satu dari lima perusahaan yang terdaftar di bursa efek Singapura yang tercatat di DJSI tahun ini.

“Kami sangat bangga meraih pengakuan dunia internasional atas segala upaya serta sumber daya yang kami kerahkan untuk memastikan produksi kelapa sawit yang bertanggung jawab. Apresiasi ini akan memacu kami untuk terus menjadikan keberlanjutan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam menjalankan bisnis kami,” ungkap Agus Purnomo, Managing Director for Sustainability and Strategic Stakeholder Engagement.

“Mendapatkan keanggotaan DJSI adalah tonggak pencapaian yang signifikan bagi kami dan membuktikan keseriusan Sinar Mas Agribusiness and Food dalam menerapkan praktik bisnis kelapa sawit yang bertanggung jawab. Dengan berpartisipasi secara aktif dalam penilaian DJSI, kami juga berusaha menyelaraskan praktik perusahaan dengan praktik global terbaik,” ujar Rafael B. Concepcion Jr., Chief Financial Officer.

Salah satu kunci keberhasilan inisiatif kelapa sawit yang bertanggung jawab perusahaan adalah dengan berupaya agar konservasi hutan dapat terlaksana. Setelah berhasil mengidentifikasi luasan area konservasi di area konsesi yang setara dengan luas Singapura, kini Sinar Mas Agribusiness and Food bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk bersama-sama menyepakati area konservasi hutan bersama. Pada saat bersamaan, perusahaan membantu masyarakat mencari mata pencaharian alternatif seperti pertanian organik terpadu bersama masyarakat setempat dengan menggunakan lahan tidur milik masyarakat sehingga masyarakat tetap memperoleh pendapatan tanpa mengganggu ekosistem area konservasi. Upaya konservasi yang berhasil adalah kunci untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Selain itu, Sinar Mas Agribusiness and Food menggunakan fasilitas penangkapan metana guna mengurangi emisi gas rumah kaca dan mendaur ulang 100% limbah produksinya untuk meminimalkan jejak lingkungannya.

Inisiatif penting lainnya mencakup transformasi rantai pasokan melalui keterlibatan secara intensif dengan para pemasoknya. Selain bekerja sama dengan para pemasok untuk mencapai kemamputelusuran hingga ke tingkat perkebunan, perusahaan menggunakan berbagai upaya pendekatan untuk memahami masalah yang dihadapi pemasok saat menerapkan praktik kelapa sawit yang bertanggung jawab. Informasi ini digunakan untuk merancang strategi intervensi yang ditargetkan seperti pelatihan khusus, lokakarya dan pembentukan tim supplier support dan helpline yang berdedikasi untuk membantu para pemasok. Perusahaan percaya bahwa membantu rantai pasokan agar menjadi lebih bertanggung jawab akan membantu mengubah industri secara keseluruhan.

Perusahaan melaporkan kemajuan komitmen keberlanjutannya setiap tahun di Laporan Keberlanjutan GAR.

Tentang Sinar Mas Agribusiness and Food
Sinar Mas Agribusiness and Food yang beroperasi di bawah Golden Agri-Resources (GAR) adalah salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terkemuka dengan total luas areal tanam di Indonesia mencapai lebih dari 486.000 hektar (termasuk kebun milik petani swadaya) per tanggal 30 Juni 2017. Perusahaan memiliki operasi terpadu yang memproduksi bahan pangan yang berbahan baku minyak nabati.

Sinar Mas Agribusiness and Food fokus pada produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan. Di Indonesia, kegiatan utamanya meliputi budidaya dan pemanenan pohon kelapa sawit; pengolahan tandan buah segar menjadi minyak sawit mentah (CPO) dan inti sawit; penyulingan CPO menjadi produk dengan nilai tambah seperti minyak goreng, margarin, shortening dan biodiesel; serta perdagangan produk kelapa sawit ke seluruh dunia. Perusahaan juga beroperasi di Tiongkok dan India dengan memiliki pelabuhan, pabrik penghancur biji sawit, memproduksi berbagai produk minyak nabati olahan, serta produk makanan lainnya seperti mie.

Didirikan pada tahun 1996, GAR tercatat di Bursa Efek Singapura pada tahun 1999 dengan nilai kapitalisasi pasar US$ 3,4 miliar per tanggal 30 Juni 2017. Perusahaan investasi Flambo International Limited saat ini merupakan pemegang saham terbesar GAR, dengan kepemilikan saham sebesar 50,35 persen. GAR memiliki beberapa anak perusahaan, termasuk PT SMART Tbk yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tahun 1992.

Senin, 18 September 2017

Politeknik Industri Logam Morowali Jadi Pusat Inovasi Berbasis Nikel

Politeknik Industri Logam Morowali akan menjadi pusat inovasi teknologi dan pengembangan produk berbasis nikel. Sekolah tinggi vokasi yang pembangunannya difasilitasi oleh Kementerian Perindustrian ini merupakan salah satu best practice dalam pelaksanaan pendidikan yang mengusung konsep link and match dengan dunia industri.

“Jadi, selain menyelenggarakan pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap kerja, kampus ini akan melakukan pengembangan riset-riset terapan yang bekerja sama dengan industri,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam sambutannya pada Peresmian Politeknik Industri Logam Morowali, Sulawesi Tengah, Senin (18/9).

Menurut Menperin, penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang terampil adalah faktor penting dalam memacu pertumbuhan industri, selain melalui pengembangan teknologi dan peningkatan investasi. “Bahkan, adanya politeknik ini, kami yakini akan mendukung penambahan investasi di industri pengolahan logam, khususnya di wilayah Sulawesi dan Indonesia bagian timur,” tutur Airlangga.

Politeknik Industri Logam Morowali juga diharapkan dapat memberdayakan masyarakat lokal agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan perusahaan-perusahaan yang berada di dalam kawasan industri Morowali. Saat ini, kawasan yang memiliki luas 2.000 hektare (ha) tersebut telah diisi sebagian besar oleh pabrik smelter berbasis nikel dengan menyerap tenaga kerja lebih dari 10 ribu orang.

Apabila beberapa perusahaan yang saat ini masih tahap konstruksi sudah beroperasi penuh, Kawasan Industri Morowali akan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 80 ribu orang. Apalagi, industri logam nasional mengalami pertumbuhan tertinggi dibandingkan sektor lainnya pada kuartal II tahun 2017 yang mencapai 7,5 persen. Hal ini bisa berdampak pada peningkatan kebutuhan tenaga kerja karena adanya investasi baru dan ekspansi.

Airlangga menjelaskan, sejak awal pendirian Politeknik Industri Logam Morowali, Kemenperin dan pelaku industri telah merancang bersama, mulai dari identifikasi kebutuhan kompetensi, kurikulum, dan pemilihan tenaga pengajar. “Sehingga implementasi sistem pembelajarannya akan terintegrasi antara pendidikan di kampus dengan praktik kerja di industri atau yang disebut dual system,” terangnya.

Kemudian, politeknik seluas 30 ha ini juga telah dilengkapi dengan fasilitas dan peralatan penelitian yang lengkap. Misalnya, ruang kelas, laboratorium, bengkel kerja, pusat inovasi, gedung direktorat, dan perpustakaan. Sarana penunjang tersebut untuk mempercepat proses alih teknologi dan menjadikan sebagai center of excellence industri nikel di wilayah timur Indonesia.

Menurut Menteri Airlangga, Politeknik Industri Logam Morowali menerapkan pendidikan berkualitas dengan beasiswa dan ikatan kerja. Bahkan, selama satu tahun pertama, mahasiswa akan mendapatkan fasilitas asrama yang disediakan oleh PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) selaku pengelola Kawasan Industri Morowali. Pembangunan kawasan ini merupakan hasil kerja sama antara Bintang Delapan Group dari Indonesia dengan Tsingshan Group dari Tiongkok.

Angkatan pertama di politeknik ini sebanyak 96 mahasiswa, yang telah dinyatakan lulus ujian saringan masuk dari 679 peserta sejak dibuka pendaftaran pada 14 Juli 2017. Mereka berasal dari Morowali, Palu, Kendari, dan Makassar. Program studi dengan jenjang D-III ini, nantinya menghasilkan lulusan Teknik Perawatan Mesin, Teknik Listrik dan Instalasi, serta Teknik Kimia Mineral.

“Untuk itu, kami berpesan kepada para mahasiswa yang akan menjalani pendidikan selama tiga tahun ke depan, manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, karena pendidikan di Politeknik Industri Logam Morowali ini didesain untuk melatih saudara dengan disiplin dan sikap kerja sesuai dengan kebutuhan industri saat ini,” paparnya.

Chairman Indonesia Morowali Industrial Park, Halim Mina memproyeksikan, Kawasan Industri Morowali akan membutuhkan tenaga kerja langsung sebanyak 25 ribu orang dengan jenjang D-III dan D-IV pada tahun 2025. “Kami membutuhkan banyak tenaga kerja profesional pada level supervisi. Diharapkan, Politeknik Industri Logam Morowali menghasilkan anak-anak bangsa yang dapat menguasai kemampuan teknologi pembuatan pabrik yang ada di kawasan industri ini,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir memberikan materi kuliah perdana kepada para mahasiswa angkaan pertama Politeknik Industri Logam Morowali.  Kemudian, dilanjutkan Menperin serta Menrisetkdikti menandatangani prasasti Pembukaan dan Kuliah Perdana Politeknik Industri Logam Morowali.

“Kami memberikan apresiasi dan berterima kasih kepada Kemenperin yang memfasilitasi pembangunan Politeknik Industri Logam Morowali ini karena telah melibatkan industrinya dengan dunia pendidikan. Pasalnya, negara dan industri bisa maju kalau sumber daya manusianya berkualitas baik. Dan, sekali lagi, kami selaku kementerian di bidang pendidikan tinggi sangat mendukung langkah yang diinisiasi oleh Kemenperin ini untuk mengembangkan akademik,” papar Menristekdikti.

Tingkatkan perekonomian

Pada kesempatan tersebut, Menperin juga menyampaikan, pembangunan kawasan industri dapat membawa efek yang luas bagi pertumbuhan ekonomi di daerah dan nasional. Misalnya, Kawasan Industri Morowali telah mampu meningkatkan Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Morowali rata-rata mencapai 29 persen selama tahun 2010-2016.

“Langkah ini sesuai dengan Nawacita Pemerintah untuk membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, serta mewujudkan kemandirian  ekonomi dengan  menggerakan  sektor-sektor  strategis  ekonomi domestik,” ungkapnya.

Menurut Airlangga, pembangunan Kawasan Industri Morowali ini menjadi salah satu upaya percepatan beberapa pengembangan proyek industri logam di Tanah Air, seperti industri berbasis nikel dan baja tahan karat (stainless steel). Dari kawasan ini diharapkan bisa menghasilkan empat juta ton baja stainless steel dan pabrik baja karbon berkapasitas 3,5 juta ton per tahun.

Selama ini, Kemenperin memfasilitasi pembangunan kawasan industri yang dekat dengan sumber bahan baku sebagai program hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Hal ini berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang menargetkan pembangunan 14 kawasan industri di luar pulau Jawa, salah satunya adalah Kawasan Industri Morowali karena memiliki potensi sumber daya alam nikel yang besar.

Lebih lanjut, untuk meningkatkan daya saing, kawasan industri ke depan juga akan dibangun menjadi kawasan modern yang mengarah pada pengembangan kota baru yang terintegrasi, dengan seluruh dukungan sarana prasarana termasuk di dalamnya pendirian pusat pendidikan serta pusat research and development (R&D).

Selain di Morowali, Kemenperin juga tengah membangun beberapa Politeknik atau Akademi Komunitas di kawasan industri atau wilayah pusat pertumbuhan industri. Tujuannya untuk mendukung penyediaan tenaga kerja kompeten di sektor industri.

“Saat ini, Kemenperin mendapatkan mandat atau penugasan dari Kemenristekdikti untuk membangun  delapan Politeknik atau Akademi Komunitas Industri, antara lain di Kendal, Banten, Dumai, Sei Mangke, Bantaeng, Batu Licin, Gresik dan Teluk Bintuni, yang akan dilaksanakan secara bertahap sampai dengan tahun 2019,” papar Airlangga.

Dalam rangka pendirian Politeknik dan Akademi Komunitas tersebut, Kemenperin sudah menjalin kerja sama dengan pemerintah Swiss dalam pengembangan pendidikan dual system. Pada tahap awal, implementasinya telah disepakati di empat Politeknik dan Akademi Komunitas, yaitu Politeknik Industri Logam di Morowali, Akademi Komunitas Industri Manufaktur di Bantaeng, Politeknik Industri Baja di Batu Licin, dan Politeknik Industri Furniture di Kendal.

Jumat, 15 September 2017

BRI Easy Card Jawab Kebutuhan Keluarga Muda

Jakarta–PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali mempererat kerjasama dengan PT Mastercard Indonesia, dengan meluncurkan Kartu Kredit BRI Easy Card yang diselenggarakan di Gandaria City Mall, Jakarta (15/09). Kartu Kredit BRI Easy Card adalah kartu kredit yang diterbitkanoleh Bank BRI dengan bekerjasma dengan Mastercard yang ditujukan kepada generasi Milenial dengan rentang umur 25-45. Kartu ini nantinya akan memberikan banyak kemudahan bagi para generasi muda dan keluarga muda  yang ingin merasakan sensasi bertransaksi berbeda melalui kartu yang disain sesuai dengan jiwa muda generasi Langgas / Milenial saat ini. Acara yang dihadiri langsung oleh Direktur Konsumer Bank BRI Randi Anto.

Kartu Kredit BRI Easy Card ini dirancang untuk senantiasa mendorong para pelanggan untuk memanfaatkan transaksi elektronik dalam setiap aktivitas pembayaran baik untuk berbelanja sehari-hari agar lebih mudah, aman dan efisien. Melalui Kartu Kredit BRI Easy Card ini, para pemegang kartu akan memperoleh keuntungan, termasuk cashback senilai 1 persen untuk transaksi tarik tunai di ATM,  2 persen untuk transaksi berbelanja di pasar swalayan (termasuk mini market), serta 3 persen untuk pembelian bahan bakar di seluruh SPBU di tanah air. Kartu terbaru ini merupakan bukti dari kemitraan BRI dan Mastercard untuk terus menyediakan pengalaman pembayaran yang jauh lebih baik, aman, praktis, dan prestige kepada nasabah Bank BRI di berbagai kota di Indonesia.

Kartu BRI Easy Card ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk memberikan sebuah platform pembayaran yang lebih mudah bagi para nasabah BRI, terlebih untukmemenuhi kebutuhan harian mereka, termasuk dalam berbelanja keperluan sehari-hari (groceries) dan membeli bahan bakar kendaraan. Dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, kami yakin produk ini akan memberikan sebuah pengalaman bertransaksi elektronik yang lebih nyaman dan menguntungkan bagi nasabah kami, serta akan mendorong merekauntuk senantiasa memanfaatkan transaksi elektronik gunamemperoleh berbagai keuntungan yang tersedia dari fasilitas pembayaran tersebut,” ungkap Rudhy Sidharta, Kepala Divisi Kartu Kredit Bank BRI.

Melalui peluncuran ini BRI berkomitmen untuk terus melakukan inovasi terhadap produk dan layanan perbankan unggulan guna memenuhi kebutuhan para nasabah lintas generasi. Hal tersebut, sejalan dengan pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi yang mempengaruhi kebutuhan gaya hidup para nasabah yang semakin kompleks yang menuntut kemudahan, efisiensi,  dan efektivitas dalam berbagai transaksi keuangan.

“Kami sangat senang dapat berkolaborasi dengan Mastercard untuk memanfaatkan teknologi serta jaringan pembayarannya yang luas dalam menyediakan nilai tambah (added-value) bagi para nasabah di berbagai kota di Indonesia,” tambah Rudhy.

Sementara itu, Tommy Singgih, Presiden Direktur Mastercard Indonesia, mengungkapkan bahwa Mastercard siap memberikan kemudahan kepada seluruh nasbabah Bank BRI melalui jaringan Mastercard yang tersebar di seluruh dunia. Tommy juga menambahkan, kini konsumen tengah beralih dari ‘dunia’ offline menuju ke ‘dunia’ yang terkoneksi terus menerus, dan kami percaya bahwa kartu kredit ini akan menyediakan mereka dengan cara pembayaran yang lebih mudah, aman dan efisien, baik dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga berbelanja online maupun aktivitas lainnya.”

Kamis, 14 September 2017

Produksi CPO Akan Capai 42 Juta Ton, Kemenperin Pacu Industri Hilir

Kementerian Perindustrian konsisten untuk mendorong pertumbuhan populasi industri hilir pengolahan minyak sawit di dalam negeri. Hal ini karena produksi CPO nasional diperkirakan mencapai 42 juta ton pada tahun 2020.

“Hilirisasi industri akan meningkatkan nilai tambah dan kemampuan dalam menghasilkan produk yang beragam dan inovatif,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Peresmian Pabrik Oleokimia PT. Energi Sejahtera Mas di Kawasan Lubuk Gaung, Dumai, Riau, Kamis (14/9).

Menurut Menperin, salah satu sektor hilir minyak sawit yang tengah dipacu pengembangannya adalah subsektor industri oleokimia. “Pasar produk oleokimia, baik di domestik maupun ekspor, masih terbuka luas karena merupakan kebutuhan bahan baku bagi sejumlah industri,” ujarnya.

Airlangga menyampaikan, pemerintah mengapresiasi langkah Sinar Mas Group dan Cepsa Spain sebagai penggagas Sinar Mas Cepsa atau PT. Energi Sejahtera Mas, yang membangun pabrik oleokimia di pusat produksi minyak sawit nasional sehingga terintegrasi proses produksinya dari hulu sampai hilir.

“Selain itu, perusahaan akan menyediakan fasilitas riset dan pengembangan teknologi untuk inovasi produk yang berdaya saing dalam upaya menyesuaikan tren terbarukan masyarakat dunia,” tuturnya.

Menperin meyakini keberadaan pabrik ini bisa menghidupkan aktivitas ekonomi sekitar Kota Dumai dan Provinsi Riau. Untuk itu, pabrik oleokimia ini diharapkan menjalin kemitraan antara industri pengolahan dengan petani sawit sebagai pemasok bahan baku sehingga akan tercipta pemerataan kesejahteraan bersama.

“Sebagai pembina sektor industri nasional, kami senantiasa memberikan dukungan agar pabrik ini dapat terus beroperasi secara berkelanjutan, menciptakan nilai tambah dengan aneka produk hilir yang inovatif, hingga mampu memperkuat struktur industri hilir sawit yang terintegrasi di Indonesia,” ungkap Airlangga.

Dalam mendukung kemudahan investasi sektor industri hilir minyak sawit di dalam negeri, Pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan dua kebijakan strategis, yaitu pengamanan bahan baku berupa tarif bea keluar dan dana perkebunan yang pro industri, serta pemberian insentif fiskal dan non fiskal untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Alhasil, Kemenperin mencatat, terdapat pertumbuhan industri hilir minyak sawit sekitar 46 persen pada kurun waktu 2011-2014 pasca pemberlakukan PMK No. 128/2011 tentang tarif Bea Keluar dan PP No. 52 Tahun 2011 serta  PMK No. 130 tahun 2011 tentang Insentif Tax Allowance dan Tax Holiday.

Sementara itu, Sinar Mas Cepsa telah memanfaatkan fasilitas Pembebasan Pajak Penghasilan Badan (PPh Badan) selama tujuh tahun. Fasilitas tersebut hanya dikhususkan bagi industri pioner dengan tingkat teknologi tinggi. Aspek eksternalitas yang luas, dan menciptakan rantai forward dan backward linkage bagi perekonomian regional dan nasional.

Perluas pasar ekspor

Pada kesempatan tersebut, Menperin juga mengatakan, kerja sama antara Sinar Mas Agribusiness and Food dengan Cepsa, perusahaan energi asal Spanyol ini tidak hanya dilihat dari sisi bisnis, namun dapat memperluas pintu ekspor sawit Indonesia ke pasar Eropa. “Jaringan bersama Eropa sangat penting. Untuk itu, joint venture diharapkan akan membawa nama baik bagi CPO Indonesia,” ujarnya.

Airlangga menambahkan, industri sawit merupakan salah satu sektor strategis bagi Indonesia karena sebagai produsen dan eksportir terbesar dunia. Sektor ini mampu menyerap tenaga kerja mencapai 21 juta orang baik secara langsung maupun tidak langsung. “Kontribusi kelapa sawit juga mencapai USD20 miliar pada tahun 2016,” tuturnya.

Dalam bidang industri pengolahan, Indonesia berpeluang menjadi pusat industri sawit global untuk keperluan pangan, non pangan, dan bahan bakar terbarukan. Kemenperin mencatat, Indonesia berkontribusi sebesar 48 persen dari produksi CPO dunia dan menguasai 52 persen pasar ekspor minyak sawit. “Ini menjadi kekuatan yang sangat besar pada konstelasi pasar domestik dan internasional bagi produk hilir minyak nabati,” imbuh Airlangga.

Chairman Sinar Mas Agribusiness and Food Franky O. Widjaja mengungkapkan, usaha patungan ini diciptakan dengan visi untuk menjadi produsen alkohol lemak berbasis nabati serta turunannya yang terdepan dengan skala global dan dengan pasokan bahan baku yang berkelanjutan.

Apalagi, penjualan alkohol lemak berbasis nabati kian diminati sebagai bahan baku untuk produk perawatan pribadi dan deterjen cair. “Upaya kami ini untuk meningkatkan nilai tambah bagi produk turunan kelapa sawit dan terus menciptakan lapangan kerja di Indonesia,” ucapnya.

Pabrik oleokimia yang menelan nilai investasi mencapai Rp4,77 triliun ini akan memproduksi asam lemak dan lemak alkohol berkapasitas 160.000 metrik ton per tahun dan memiliki pangsa pasar di kawasan Asia, Eropa Timur dan Eropa Barat. Pabrik ini secara langsung memberikan lapangan pekerjaan bagi 300 tenaga kerja Indonesia.

“Kami akan mendukung pertumbuhan industri bahan kimia di Indonesia melalui transfer pengetahuan serta penerapan teknologi terdepan yang berkelanjutan,” kata Deputy CEO Sinar Mas Cepsa, José María Solana.

Pabrik di Dumai ini sepenuhnya telah beroperasi secara mandiri dengan mampu menghasilkan listrik serta mengolah limbah dan logistiknya sendiri. Selain itu, pabrik ini berlokasi strategis karena bersebelahan dengan Kilang minyak Lubuk Gaung milik Sinar Mas Agribusiness and Food yang memasok minyak inti sawit untuk pabrik tersebut. Kilang Minyak Lubuk Gaung telah memperoleh sertifikasi RSPO dan dapat ditelusuri asal bahan bakunya.

"Kami juga memiliki area tanam dengan total luas nasional mencapai lebih 480 ribu hektare dan menciptakan lapangan kerja 170.700 tenaga kerja indonesia," ujar Vice Chairman dan CEO Cepsa Pedro Mino. Di Indonesia, perusahaan ini akan melakukan kegiatan budidaya dan pengolahan tandan buah segar menjadi CPO dan inti sawit, serta penyulingan jadi produk minyak goreng, margarin, biodiesel.